Kenapa Thinking & Intuiting Susah Minta Maaf

📌 Resume Diskusi Grup WA Promotor STIFIn Brain (16 Agustus 2025)

1. Pertanyaan Awal

Bu Annisa membuka diskusi:
👉 Kenapa Thinking (T) dan Intuiting (I) sulit minta maaf, lebih sering mengganti dengan tindakan?


2. Thinking (T) dan Minta Maaf

  • Karakter T:
    • Dominasi logika → hati cuma 20%.
    • Love language = Act of Service → minta maaf lewat tindakan.
    • Fokus menyelesaikan masalah, bukan meredakan perasaan.
    • Kata “maaf/tolong” lebih sering dipakai dalam konteks birokrasi.
  • Contoh nyata:
    • Suami T minta maaf dengan belikan jajan buat istri.
    • Anak T bisa terbiasa bilang maaf kalau lingkungan dominan Feeling/Insting yang membiasakan anaknya untuk minta maaf jika salah.
    • T lebih mudah minta maaf jika posisi tahtanya terancam.
  • Respon yang diharapkan:
    • Jangan diungkit lagi kesalahan setelah minta maaf.
    • Diam + perbaikan kesalahan = bentuk maaf paling jelas bagi T.

3. Intuiting (I) dan Minta Maaf

  • Karakter I:
    • Cenderung gengsi.
    • Sering lupa untuk minta maaf.
    • Menganggap masalah kecil bisa selesai begitu saja (“ya sudahlah”).
  • Sifat pemaaf:
    • Cepat melupakan konflik.
    • Sesama I bisa mengabaikan kesalahan kecil tanpa maaf.
  • Faktor lingkungan:
    • Terbiasa cuek atau asosiasi sejak kecil → tidak terbiasa bilang maaf.

4. Cara Membuat Thinking/Intuiting Mau Minta Maaf

  • Suruh langsung, tapi nada lembut.
  • Tunjukkan bukti logis atas kesalahan.
  • Jangan diajak berdebat.
  • Fokus ke solusi/perbaikan kesalahan.
  • Kalau sudah minta maaf → jangan dibahas lagi.

5. Feeling (F) sebagai Kontras

  • F itu cinta ❤️ → tidak terprogram untuk membenci.
  • Kata “maaf” saja sudah cukup meluluhkan hatinya, bahkan sebelum diminta.
  • Kelemahan: tetap menerima meski disakiti berulang kali, sampai akhirnya memilih pergi diam-diam.
  • Kalau salah, cenderung keras hati untuk memulai minta maaf. 

6. Humor dan SOP Minta Maaf

  • T gampang minta maaf di lapangan badminton → karena SOP (service error, poin hilang, smash kena kawan).
  • Jadi “maaf” lebih karena itungan logis, bukan dari hati.
  • F promotor menyoroti: kadang T seperti “robot” dalam meminta maaf.
  • Minta maafnya formal dan impersonal (lewat surat, tlp, WA).

7. Thiking & Intuiting dalam Interaksi

  • T suka adu data, I suka sindiran.
  • Enaknya: tidak banyak drama, bisa mengkritik langsung tanpa gosip di belakang.
  • S (Sensing) biasanya jadi penonton yang santai.
  • Hubungan dengan MBTI: T/I lebih dekat ke Perceiving, S/F lebih ke Judging.

8. Diskusi MBTI, RIASEC, dan STIFIn

  • MBTI & DISC masih relevan untuk beberapa tipe, tapi  tidak untuk Insting.
  • RIASEC bisa dipakai untuk melihat irisan minat antar MK (misal: S suka ngitung, I suka matematika, F suka Seni).
  • Asal-usul Insting (In):
    • Ditemukan oleh Farid Poniman dari observasi istrinya yang Insting.
    • Diperkuat dengan referensi Imam Al-Ghazali (Kitab Ar-Rasail).
    • Peserta Training Kubik Leadership juga menjadi sumber data observasi untuk Mesin Kecerdasan STIFIn.

9. Keilmiahan STIFIn

  • Suatu teori disebut ilmiah jika memenuhi 3 unsur:
    1. Ontologi → objek apa yang diteliti.
    2. Epistemologi → cara mendapatkan pengetahuan.
    3. Aksiologi → manfaat/gunanya.
  • Banyak yang belum paham STIFIn, belum Tes STIFIn menyebutnya tidak ilmiah karena belum merasakan unsur aksiologinya. Belum merasakan manfaatnya.

10. Studi Kasus Anak Feeling

  • Ada kasus Anak Feeling tidak membalas meski diganggu/dipukul.
  • Kecenderungan orang tua akan menyuruhnya untuk membalas. Tapi, sebaiknya orang tua perlu mengubah pendekatan → bukan mengajarkan balas, tapi mengeluarkan potensi kindful & diplomatic si anak. 
  • Jadi anak tidak membalas bukan karena dia tidak mampu membalas. Lebih karena dia ingin mengedepankan persahabatan dari pada permusuhan. 
  • Jika anak ramah & positif, ia akan punya banyak teman yang otomatis berpotensi membelanya.
  • Vibrasi anak terbentuk dari rumah → jika positif, akan menarik lingkungan positif. Dan sebaliknya. 

🎯 Kesimpulan Utama Diskusi

  1. Thinking (T): maaf = logika & tindakan tanggung jawab, bukan kata.
  2. Intuiting (I): gengsi/lupa, tapi cepat memaafkan. Menganggap masalah kecil.
  3. Feeling (F): maaf kata saja sudah cukup, hati penuh cinta, tapi sulit memulai minta maaf, jika hati penuh dendam.
  4. Lingkungan & kebiasaan sangat memengaruhi apakah T/I bisa lebih terbiasa mengucap maaf.
  5. MBTI, dan RIASEC saling melengkapi untuk memahami perilaku manusia dari sisi pengaruh Lingkungan. 
  6. Tipe Insting hanya dijelaskan oleh STIFIn. Tidak ada teori lain yang menjelaskan sedetail STIFIn.
  7. Anak Feeling perlu diarahkan agar auranya positif, sehingga otomatis berpotensi dilindungi lingkungan persahabatannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anda Seorang Sensing? Kenali Kekuatan & Tantangan Si Praktis!

Mengenal Diri dengan STIFIn